Translate

Monday, November 26, 2012

Makalah Tauhid tentang aliran Asy’riyah dan Matuidiyah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Setelah Rasulullah wafat, muncul berbagai aliran dalam islam. Mulai dari aliran yang pertama muncul yaitu Khawarij sampai pada zaman sekarang, yaitu aliran-aliran islam liberal. Ada bermacam-macam faktor yang mempengaruhi munculnya aliran-aliran tersebut. Salah satunya adalah faktor politik, yang merupakan pertentangan antara Muawiyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thaib yang diakhiri dengan tahkim. Sehingga pengikut Ali terpecah menjadi dua kelompok, yaitu Khawaij dan Syi’ah. Kemudian munculah berbagai golongan yang lain sebagai reaksi terhadap golongan-golongan sebelumnya.

Lalu munculah istilah Ahlussunah wa Jama’ah. Ahlussunnah sering juga disebut sunni, sementara sunni  dapat dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan dari kelompok Syi’ah. Yaitu Mu’tazilah,  Asy’ariyah dan Maturidiyah. Sedangkan sunni dalam arti khusus adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah yang merupakan lawan dari Mu’tazilah. Dalam makalah ini, penulis akan membahas masalah sunni berdasarkan pengertian yang kedua. Yaitu mengenai aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah yang merupakan lawan dari Mu’tazilah.
B.     Rumusan Masalah
Berdasar dari latar belakang di atas, penulis merumuskan beberapa pokok masalah sebagai berikut :
1.      Sejarah dan pokok-pokok ajaran Asy’ariyah
2.      Sejarah dan pokok-pokok ajaran Maturidiyah
3.      Persamaan dan perbedaan ajaran Asy’ariyah dan Maturidiyah

BAB II
PEMBAHASAN

   A.  Sejarah dan pokok-pokok ajaran Asy’ariyah
Asy’ariyah diambil dari nama pendirinya yaitu Abu Hasan Al-Asy’ari. Nama lengkapnya ialah Abu Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari. Beliau lahir pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan meninggal dunia di Baghdad pada tahun 324 H/936 M.
Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Al-juba’i yang merupakan seorang pembesar aliran Mu’tazilah. Sehingga, Al-Asy’ari menjadi pengikut Mu’tazilah dan menguasai ajarannya dengan sempurna. Bahkan terkadang Al-Juba’i menyuruh Al-Asy’ari untuk menggantikannya dalam pemberian fatwa maupun dalam perdebatan aliran.
Al-Asy’ari menganut paham Mu’tazilah hanya sampai usia 40 tahun. Setelah itu tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham Mu’tazilah dan menunjukan keburukan-keburukannya. Menurut Al-Subki dan Ibnu Asakir, alasan Al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah adalah bahwa pada suatu malam Al-Asy’ari bermimpi bertemu Rasulullah. Dalam mimpinya, Al-Asy’ari diperintah untuk meninggalkan aliran Mu’tazilah dan ia diperintahkan untuk membela sunnah Rasulullah.
Selain itu terdapat pula faktor lain, yaitu suatu ketika Al-Asy’ari pernah berdebat dengan gurunya yang juga merupakan ayah tirinya, Al-Juba’i. Dalam perdebatan itu, Al-Juba’i tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Al-Asy’ari. Di antara pertanyaan yang diajukan oleh Al-Asy’ari, menurut Al-Subki, adalah sebagai berikut:
Al-Asy’ari: Bagaimana kedudukan ketiga orang berikut: mukmin, kafir, dan anak kecil di akhirat?
Al-Juba’i: Orang mukmin mendapatkan tempat yang baik di surga, orang kafir masuk neraka, dan anak kecil terbebas dari bahaya neraka.
Al-Asy’ari: Kalau anak kecil tersebut ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di surga, mungkinkah itu?
Al-Juba’i: Tidak, sebab yang mungkin mendapat tempat yang baik di surga adalah orang yang patuh kepada-Nya, sedangkan anak kecil belum mempunyai kepatuhan seperti itu.
Al-Asy’ari: Kalau anak itu mengatakan kepada Allah: Itu bukan kesalahanku. Andaikan Engkau membolehkan aku untuk terus hidup, maka aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik sebagaimana yang dilakukan oleh orang mukmin.
Al-Juba’i: Allah akan menjawab: Aku tahu bahwa andaikan kamu terus hidup maka kamu akan berbuat dosa, sehingga kamu akan mendapat siksa. Oleh karena itu, untuk kepentinganmu, Aku cabut nyawamu sebelum kamu mencapai baligh.
Al-Asy’ari: Seandainya orang kafir berkata kepada Allah: Engkau mengetahui masa depanku sebagaimana Engkau mengetahui masa depan anak kecil tersebut. Namun, mengapa Engkau tidak menjaga kepentinganku?
Al-Juba’i terdiam.[1]
            Setelah itu, Al-Asy’ari semakin yakin untuk meninggalkan ajaran Mu’tazilah dan ia merumuskan sendiri pemikiran-pemikirannya yang sering disebut sebagai paham Asy’ariyah. Ajaran-ajarannya dapat dipelajari melalui kitab-kitab yang ia tulis. Beberapa kitabnya adalah kitab Al-Luma’ fi al-Radd ‘ala Ahl al-Ziyagh wa al-Bida’ (Kecemerlangan dalam menolak orang yang menyimpang dan melakukan bid’ah), Al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah (Uraian tentang prinsip-prinsip agama),  dan Maqalat al-Islamiyyin (Makalah tentang orang Islam), serta kitab-kitab yang ditulis oleh para pengikutnya.
Tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah yang terkenal antara lain, Al Baqilani (wafat 403 H), Ibnu Faruak (wafat 406 H), Ibnu Ishak al Isfarani (wafat 418 H), Abdul Kahir al Bagdadi (wafat 429 H), Imam al Haramain al Juwaini (wafat 478 H), Abdul Mudzaffar al Isfaraini (wafat 478 H), Al-Ghazali (wafat 505 H).
Al-Asy’ari mengembangkan metode pemikirannya berdasarkan pada nash dan akal. Beberapa ajaran Asy’ariyah adalah sebagai berikut:
a.       Tentang sifat Allah SWT
Menurut Asy’ariyah, Allah mempunyai sifat seperti al-‘Ilm (mengetahui), al-Qudra (kuasa), al-Hayah (Hidup), al-Sama’ (mendengar), al-Bashar (melihat), dan lain-lain. Sifat-sifat tersebut berada di luar dzat Allah dan bukan dzat Allah itu sendiri karena Allah mengetahui bukan dengan dzat-Nya, melainkan mengetahui dengan pengetahuan-Nya. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain. Tetapi sifat-sifat yang dimiliki Allah itu unik, berbeda dengan sifat yang dimiliki oleh manusia.
b.      Tentang kedudukan al-Quran
Al-Quran adalah kalam Allah (Firman Allah SWT) dan bukan makhluk dalam arti diciptakan. Karena al-Quran adalah firman Allah maka pastilah al-Quran bersifat qadim.
c.       Tentang perbuatan manusia
Seluruh perbuatan manusia diciptakan oleh Allah SWT. Walaupun demikian, Al-Asy’ari tetap mengakui tentang adanya daya dalam diri manusia, meskipun daya itu tidak efektif. Karena hanya Allah yang dapat menciptakan sesuatu.
d.      Tentang keadilan Allah SWT
Menurut Asy’ariyah, Allah adalah pencipta alam semesta dan mempunyai kehendak mutlak terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, Dia dapat berbuat sekehendak-Nya, memasukkan seluruh manusia ke dalam surga atau neraka. Karena Allah tidak mempunyai keharusan apa pun terhadap makhluk-Nya.
e.       Tentang antropomorfisme
 Al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah SWT mempunyai mata, muka, tangan, dan yang lainnya. Namun tidak dapat diketahui seperti apa bentuknya. Pendapat ini didasarkan pada:
“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (Q.S al-Rahman: 27)
“Yang berlayar dengan mata kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh)”. (QS al-Qamar: 14)
f.       Tentang melihat Allah SWT di akhirat
 Karena Al-Asy’ari mengakui akan adanya antropomorfisme Tuhan, maka dia pun berpendapat bahwa Allah akan dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala karena Allah mempunyai wujud. Hal ini didasarkan pada:
“Wajah orang-orang mukmin pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah 22-23)
g.      Tentang dosa besar
Imam merupakan lawan dari kufur, maka jika seseorang tidak beriman, ia dianggap kafir. Sedangkan apabila ia tidak kafir, maka ia tetap mukmin. Orang mukmin yang melakukan dosa besar dianggap mukmin fasik atau ‘ashi (durhaka) selama ia masih beriman kepada Allah. Karena Asy’ariyah berpendapat bahwa iman tidak akan hilang selain karena syirik. Sedangkan dosa besarnya diserahkan kepada Allah SWT, apakah akan diampuni atau tidak.
h.      Akal dan wahyu
Asy’ariyah mengakui akan pentingnya akal dalam diri manusia. Tetapi selain akal, Asy’ariyah juga menekankan wahyu sebagai sumber hukum pokok. Sehingga dalam menyelesaikan suatu masalah, Asy’ariyah lebih mengutamakan wahyu daripada akal.
   B.  Sejarah dan pokok-pokok ajaran Maturidiyah
Pendiri aliran ini adalah Abu Manshur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud al-Maturudi lahir di Maturid daerah Samarkand pada pertengahan ke dua dari abad ke sembilan Masehi dan meninggal di tahun 944 M. Ia merupakan pengikut Abu Hanifah. Dalam paham-paham teologinya memiliki banyak persamaan dengan paham-paham Abu Hanifah. Karena di Samarkand hadits tidak berkembang, maka Al-Maturidi lebih menonjolkan akal dalam pemikiran teologinya. Sistem pemikiran teologi Abu Mansur termasuk dalam golongan teologi ahli sunnah dan dikenal dengan Maturidiah.
Latar belakang lahirnya teologi ini sama dengan Asy’ariyah, yaitu untuk menentang pendapat Mu’tazilah yang terlalu rasional. Namun tidak semua pahamnya menentang Mu’tazilah. Bahkan ada beberapa yang hampir mendekati pemikiran Mu’tazilah. Al-Maturidi hidup pada zaman dimana sedang gencar-gencarnya terjadi pertentangan antara Mu’tazilah sebagai kaum rasionalis dan Asy’ariyah yang lebih mengutamakan wahyu daripada akal. Di tengah-tengah perdebatan ini, munculah Al-Maturidi yang merumuskan pahamnya sendiri sebagai titik tengah antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Maka, aliran ini juga sering disebut berada di antara teologi Asy’ariyah dan Mu’tazilah.
Tokoh-tokoh terkenal dari aliran ini adalah Imam Abul Qasim Ishaq bin Muhammad bin Ismail Al Hakim Al Samarqandi (wafat 342 H), Abul Qasim Al Hakim (wafat 390 H), Abu Muhammad Abdul Kareem bin Musa bin Isa Al Bazdawi (wafat 390 H), dan tokoh yang paling terkenal serta sangat berpengaruh bagi aliran ini adalah Abu Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain Abdul Kareem Al Bazdawi (421 H – 493 H).
Dalam perkembangannya, Al-Bazdawi tidak sepenuhnya mengikuti paham-paham Al-Maturidi. Sehingga banyak yang berpendapat bahwa Maturidiyah pecah menjadi dua golongan, yaitu golongan Samarkand yang mengikuti paham-paham Al Maturidi dan golongan Bukhara yang mengikuti faham-faham Al Bazdawi.
 Pokok-pokok ajaran Maturidiyah Samarkand adalah sebagai berikut:
a.       Mengenai sifat-sifat Allah SWT
Maturidiyah mengakui akan adanya sifat bagi Allah. Menurunya, Allah Mengetahui bukan dengan zat-Nya tapi dengan pengetahuan-Nya, dan berkusa pun bukan dengan zat-Nya. Tetapi, ia menolak faham antropomorfisme. Menurutnya Allah Maha Suci dari antropomorfisme. Pendapat ini hampir serupa dengan Mu’tazilah.
b.      Melihat Allah Swt.
Menurut maturidiyah,orang-orang yang beriman akan dapat melihat Allah SWT pada hari kiamat.Tetapi tidak diketahui seperti apa bentuk dan sifat Allah Seperti faham Asy’ariyah, pendapat ini didasarkan pada Q.S. Al-Qiyamah ayat 22-23.
c.       Pelaku dosa besar
Menurut Maturidiyah pelaku dosa besar tidak akan kekal di neraka.Ia di neraka hanya sementara sesuai dengan besarnya dosa yang ia perbuat. Karena dosa besar selain syirik tidak akan membuat seseorang menjadi kafir.
d.       Kalam Tuhan
Maturidiah membagi kalam Tuhan menjadi dua, yaitu kalam Nafsi dan kalam yang tersusun atas suara dan huruf. Kalam nafsi adalah firman Allah yang bersifat qodim. Sedangkan kalam yang tersusun atas huruf dan suara merupakan hadist atau baru.
e.       Perbuatan Manusia
Mengenai perbuatan manusia dalam hal ini manusia bisa diibaratkan seperti wayang yang di kendalikan oleh sorang wayang karena menurut pandangan Maturidiah manusia tidak mempunyai daya dan upaya untuk melakaukan perbuatan jadi semua hal yang di perbuat oleh manusia dalam ha ini tidak lain hanyalah takdir tuhan. 
C. Persamaan dan Perbedaan Ajaran Maturidiah dan Asyariah
 C.1 Persamaan Maturidiah dan Asyariah
a. kedua aliran ini muncul karena reaksi dari aliran mu’tazilah
b. mengenai sifat ketuhanan kedua aliran ini beranggapan bahwa allah bisa di ketahui melalui sifat sifatnya bukan melalui dztnya
c. keduanya menentang  aliran Mutazilah yang beranggapan bahwa Al quran adalah kalam Allah yang qodim.
d. keduanya mempunyai kyakinan bahwa kelak dihari kiamat manusia dapat melihat tuhan melalui sifat sifatnya.
e. keduanya beranggapan bahwa meraka adalah Ahlu sunnah wal jamaah
            c.2 Perbedaan antara Muturidiah dan Asyariah
                        a. beranggapan mengenai perbuatan manusia asyariah menganut ajaran Jabariah sedangkan Maturidiah menganut ajaran Qodariah
                        b. menurat pandangan Asyariyah akal manusia tidak bisa mengetahui tentang kewajiban manusia sedangkan Maturidiah akal dapat mengetahui hal yang harus dikerjakan.
                        c. Asyariah berkeyakinan bahwa Allah bisa saja memberi pahala kepada orang yang durhaka dan menyiksa orang yang taat kepadaNYA berbeda dengan Maturidiah yang beranggapan sebaliknya.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Setelah wafatnya Rasululah,umat islam menjadi beberapa golongan.Salah satu golongan nya adalah Ahlu Sunnah Jama’ah.Golongan ini terdiri dari dua madhzab besar yaitu Asy’ariyah dan Maturidiyah.Pada dasarnya,Asy’ariyah dan Maturidiyah mempunyai persamaan dalam hal keyakinan dan tujuan,yaitu untuk menentang kaum Mu’tazilah.Tetapi ada beberapa pokok ajaran mereka yang berbeda.Asy’ariyah sangat mengutamakan wahyu daripada akal.Sedang kan Maturidiyah memberikn ruang lebih besar kepada akal daripada Asy’ariyah.

B.Saran
Setelah mempelajari aliran Asy’riyah dan Matuidiyah,penulis menyarankan agar kita jangan saling menyalahkan dan mengkafirkan suatu golongan.Apalagi jika tuduhan kita hanya sekedar taklid tanpa tahu dasar hukumnya.Namun,kita juga jangan sembarangan mengikuti suatu aliran.Ada baiknya,kita mempelajari terlebih dahulu.
 

[1]

No comments:

Post a Comment

Post a Comment